https://open.spotify.com/embed/track/2v0vKdardqBzAPhObJyAvd?utm_source=generator&si=847ef913c5914e60
panasea*/pa·na·sea/* /panaséa/ n remedi bagi semua penyakit atau kesulitan; obat (mujarab);
kala itu tubuhku rasanya kehilangan fungsinya. kakiku tak dapat lagi digunakan untuk melangkah. jemariku tak lagi mampu untuk menggenggam. sedang lidahku seperti kelu, tak lagi bertulang, untuk bersuara. di dalam kepalaku seperti ada seratus orang yang berebut bicara. berisik sekali.
lalu kamu datang. ceritakan harimu yang sama ramainya dengan isi kepalaku. kamu tidak menuntut timbal balik. kamu hanya duduk di sampingku dan mengoceh panjang lebar.
satu hari.
dua hari.
satu minggu kemudian lidahku dapat bergerak. aku mulai menjawab rengekan panjangmu perihal praktikummu yang gagal siang tadi. kala itu aku ingat betul binar matamu jauh lebih terang dari yang lalu. jawabanku seperti setara dengan sebuah medali perunggu yang berhasil kamu dapatkan dari perlombaan merakit mobil balap listrik di Qatar. dapat aku lihat senyummu yang tak kunjung luntur sampai malam tiba.
dan aku juga mulai ceritakan kepadamu apa yang buat kepalaku berisik. satu persatu kamu bantu urai ramainya. perlahan tanpa terburu. kamu seperti berikan seluruh waktumu untuk aku seorang. kalimat yang keluar dari belah bibirmu teramat lembut dan hati-hati. hatiku rasanya nyeri sekali. kapan terakhir kali aku diperlakukan sebegininya?
seperti punya kepercayaan diri. kamu mengangsurkan jemari tangamu kepadaku. sayangnya, jemariku masih belum berfungsi.
tapi kamu mau menunggu untuk yang kedua kalinya.
satu hari.
dua hari.
satu minggu.
satu bulan kemudian di bawah teriknya sinar matahari aku raih jemari tanganmu dengan getar yang tak dapat disembunyikan. lalu kamu genggam erat jemari ringkihku. erat sekali sampai hangatnya menjalar ke hati.
dan lagi aku lihat binar matamu kala itu seperti setara dengan sebuah trophy berwarna perak hasil dari kerja kerasmu belajar fisika sampai kurang tidur.
kata terburu sepertinya tidak ada di dalam kamusmu. kamu tak langsung menarik ragaku untuk melangkah bersamamu.
kamu mau menunggu untuk ketiga kalinya.
kamu memang tidak menarik tanganku untuk segera melanjutkan langkah bersamamu karena aku dan kamu jelas tahu betul yang kali ini butuh waktu tunggu yang panjang. aku perlu pastikan banyak hal. apakah kakiku sudah mampu untuk menopang tubuhku? untuk kembali melangkah? untuk kembali berlari?
satu hari.
satu minggu.
satu bulan kemudian dalam genggaman erat jemarimu, kakiku kembali sanggup untuk menopang berat tubuhku. saking girangnya, kamu sampai melompat kecil. lalu dua bulan kemudian dalam genggaman erat jemarimu, kakiku kembali sanggup untuk melangkah. kamu sampai menangis saat melihatku melangkah di sampingmu. tangisan itu sepertinya sama dengan tangisanmu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jepang untuk kemajuan teknologi disana.